Sayup sayup terdengar suara-suara orang berbicara. Belum jelas apa maknanya. Matapun berusaha melihat siapakah mereka. Ada apa ? Ada apa ?
Baru kusadari kalau tubuh ini merebah dipinggir jalan di depan sebuah rumah makan. Berkepung dengan beragam orang mengitari. Dan salah seorang dari mereka sedang memplester telunjuk kananku. Ada apa ini ? Ada apa ini ? Aku masih diam dalam bingungku dan memandangi mereka satu persatu.
Ku coba tenangkan ku. Hembusan demi hembusan nafas kunikmati alirannya melewati lubang hidung. Tapi aku masih bingung. Apa apa ini ? Ada apa ini ?
Entah dapat ide dari mana, ku bangunkan tubuh ini dan duduk bersila.
Didepanku, SupraFit yang selalu menemaniku dalam perjalanan Bandung – Jakarta berdiri terdiam dalam temaramnya senja yang sedikit demi sedikit akan berubah menjadi malam.
Jas hujan warna biru yang baru dibeli kemarin masih menempel. Aku lihat dan aku raba tak ada yang sobek.
Oh … ternyata di celana jas hujan ada lubang kecil. Hmmm .. Ada apa ini yah ?
Hah !!!! Baru kusadari bahwa ada peristiwa yang terlewatkan oleh sadarku. Telunjuk kananku mulai terasa nyeri. Dan gerakannya kok terasa aneh. Bergegas ku buka bagasi motor. Obeng dan kunci pas menjadi bidai dalam ikatan rafia untuk menopang patahnya tulang jari telunjuk dan punggung tangan (lurus sealiran dengan jari telunjuk).
SupraFIT yang tadinya terlihat utuh, ternyata bagian kanan sudah tidak utuh lagi. Pijakan kaki tengah, pijakan rem belakang, pijakan kaki belakang serta sayap sudah tidak berwujud lagi. Blok mesin kanan bolong ber diameter lebih kurang 3 atau 4 cm. Dan pasti tidak bisa dikendarai sampai ke Bandung.
Dan motor yang menabrakku tinggal setengah. (Aneh ?!) Tapi pengendaranya hanya luka ringan tanpa darah.
Ini adalah kali kedua terhapus ingatanku akan suatu peristiwa.
Selayaknya pihak yang merasa dirugikan, menagih ganti rugi adalah wajar. Tapi hal itu tak mungkin terpenuhi. Karena sehari-hari pun susah dalam lingkup dinding bambu di lereng terpencil. Jadinya mau atau tidak …. ikhlaskan saja.
Kalau dipikir lagi,
diri ini masih lebih beruntung daripadanya. Dan dari sekian hitungan hanya beberapa ratus ribu saja yang lepas dan tangan kanan yang belum berfungsi seperti semula. Dan sisanya sudah ada yang menanggung. Mungkin akibat dari kelalaian sebelumnya yang tidak bisa menjaga anugerahNya. Sehingga diminta kembali.
Senja di Cipatat pada 1 Maret 2008

